Kepuasan Kerja

Guru menjadi pelaku yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan,
mempunyai pikiran, perasaan dan keinginan yang dapat mempengaruhi sikapsikap
terhadap pekerjaanya. Sikap ini akan menentukan kinerja guru, dedikasi,
dan kecintaan terhadap pekerjaan yang dibebankan di pundaknya. Sikap yang
positif harus dibina, sedang yang negatif harus dihilangkan sedini mungkin. Sikap
guru itu seperti kepuasan kerja, stress dan frustasi yang ditimbulkan adanya
pekerjaan, pearalatan, lingkungan, iklim organisasi dan sebagainya.
Kepuasan Kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang
menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka.1 Ada perbedaan yang penting
antara perasaan ini dengan unsur lainnya dari sikap pegawai. Kepuasan kerja
adalah perasaan senang atau tidak senang yang relatif yang berbeda dari
pemikiran obyektif dan keinginan perilaku. Malayu SP. Hasibuan mendefinisikan
kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai
pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi
kerja. Kepuasan kerja adalah perasaan senang atau tidak senang yang relatif
yang berbeda dari pemikiran obyektif dan keinginan perilaku.

Kepuasan Kerja adalah sikap umum pekerja yang menilai perbedaan
antara jumlah imbalan yang diterima dengan yang diyakininya seharusnya
diterima.2 Sedang menurut Schermerhorn Hunt dan Osborn bahwa kepuasan
kerja adalah tingkat dimana seseorang merasa positif atau negatif tentang
berbagai segi dari pekerjaan, tempat kerja dan hubungannya dengan teman
kerja.3 Kepuasan adalah keadaan emosi yang positif dari mengevaluasi
pengalaman kerja seseorang. Ketidakpuasan kerja akan muncul saat harapanharapan
ini tidak dipenuhi. Sebagai contoh, jika seorang tenaga kerja
mengharapkan kondisi kerja yang aman dan bersih, maka tenaga kerja mungkin
bisa menjadi tidak puas jika tempat kerja tidak aman dan kotor.4
Berdasarkan atas beberapa pendapat ahli tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepuasan kerja adalah refleksi
perasaan seseorang yang menyenangkan mengenai pekerjaan berdasarkan atas
harapan dengan imbalan yang diberikan oleh organisasi,
Kepuasan kerja guru ditunjukkan oleh sikapnya dalam bekerja/mengajar.

Baca Juga  SUPERVISI AKADEMIK DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH KAITANNYA DENGAN EFEKTIVITAS MENGAJAR GURU

Jika guru puas akan keadaan yang mempengaruhi dia maka dia akan bekerja
dengan baik/mengajar dengan baik. Tetapi jika guru kurang puas maka dia akan
mengajar sesuai kehendaknya.
Arni Muhammad menyebutkan ada dua hal yang mungkin menyebabkan
orang tidak puas dengan pekerjaannya. Hal pertama, apabila orang tersebut tidak
mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjannya. Yang
kedua, apabila hubungan sesama teman sekerja kurang baik. Atau dengan kata
lain ketidakpuasan kerja ini berhubungan dengan masalah komunikasi.

Malayu SP. Hasibuan menyebutkan bahwa kepuasan kerja karyawan dipengaruhi
faktor-faktor berikut :1). balas jasa yang adil dan layak; 2) penempatan yang tepat
sesuai dengan keahlian; 3) Berat-ringannya pekerjaan; 4) suasana dan
lingkungan pekerjaan; 5) peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan; 6)
sikap pimpinan dalam kepemimpinannya; 7) sifat pekerjaan monoton atau tidak.6
Selanjutnya Hasibuan menjelaskan bahwa tolok ukur tingkat kepuasan
yang mutlak tidak ada karena setiap individu karyawan berbeda standar
kepuasannya. Indikator kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan, moral
kerja, dan turnover besar maka secara relatif kepuasan kerja karyawan baik.
Sebaliknya jika kedisiplinan. moral kerja, dan turnover kecil maka kepuasan kerja
karyawan diperusahaan bertambah.

Kepuasan kerja merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan dan
prestasi kerja guru dalam mendukung terwujudnya tujuan pendidikan. Dengan
demikian dapat pula dikatakan bahwa kepuasan dan ketidak puasan kerja guru
adalah perasaan guru tentang menyenangkan atau tidak mengenai pekerjaan
berdasarkan atas harapan guru dengan imbalan yang diberikan oleh
sekolah/organisasi. Jika pekerjaan mengajar guru mendapat imbalan yang
menurutnya pantas ia akan puas, sebaliknya jika hasil kerjanya memperoleh
imbalan yang tidak pantas menurutnya maka guru menjadi tidak puas.
Kepuasan yang tinggi diinginkan oleh kepala sekolah karena dapat
dikaitkan dengan hasil yang positif yang mereka harapkan, yang menunjukkan
manajemen pendidikan yang efektif dan efisien oleh kepala sekolah.
Kepuasan kerja adalah bagian dari kepuasan hidup. Sifat lingkungan
seseorang di luar pekerjaan mempengaruhi perasaan di dalam pekerjaan.
Demikian juga halnya karena pekerjaan merupakan bagian penting kehidupan,
kepuasan kerja mempengaruhi kepuasan hidup seseorang.7 Hasilnya terdapat
dampak bolak-balik antara kepuasan kerja dengan kepuasan hidup.
Konsekuensinya, seorang Kepala Sekolah mungkin tidak hanya memantau
pekerjaan dan lingkungan kerja guru. Namun juga memantau sikap guru terhadap
bagian kehidupan lainnya seperti unsur keluarga, pekerjaan, politik, hiburan dan
agama.

Baca Juga  Prinsip Penilaian

Prestasi kerja menyumbang timbulnya kepuasan kerja, dimana prestasi
yang lebih baik akan menimbulkan imbalan ekonomi, sosiologis dan psikologis
yang lebih tinggi. Apabila imbalan itu dipandang pantas dan adil, maka timbul
kepuasan yang lebih besar karena pegawai merasa bahwa mereka menerima
imbalan yang sesuai prestasinya. Sebaliknya, apabila imbalan dipandang tidak
sesuai dengan tingkat prestasinya, cenderung timbul ketidak puasan.
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kepuasan kerja yang biasa
terjadi pada dunia kerja/industri yang bisa pula diterapkan di dunia pendidikan,
yaitu :
1. Usia. Ketika para karyawan makin bertambah lanjut usianya. Mereka
cenderung sedikit lebih puas dengan pekerjaannya. Karyawan yang lebih muda
cenderung kurang puas karena berpengharapan tinggi, kurang penyesuaian
dan berbagai sebab lain.
2. Tingkat pekerjaan. Orang-orang dengan pekerjaan pada tingkat lebih tinggi
cenderung merasa lebih puas dengan pekerjaan mereka.. Mereka biasanya
memperoleh gaji dan kondisi kerja lebih baik, dan pekerjaan yang dilakukan
memberi peluang untuk merasa lebih puas.
3. Ukuran organisasi. Pada saat organisasi semakin besar, ada beberapa bukti
yang menunjukkan bahwa kepuasan kerja cenderung agak menurun apabila
tidak diambil tindakan perbaikan untuk mengimbangi kencenderungan itu.
Pada dunia pendidikan bisa terjadi guru-guru yang sudah tua cenderung
lebih puas dalam bekerja, karena harapannya tidaklah setinggi jika dibandingkan
dengan guru-guru yang lebih muda. Guru-guru yang memperoleh jabatan
tambahan, tugas tambahan akan lebih puas dalam bekeja dibanding dengan guruguru
yang memperoleh tugas mengajar saja tanpa tambahan tugas/jabatan lain,
ini dikarenakan guru yang memperoleh jabatan/tugas tambahan tentu lebih
banyak tunjangannya, disamping dia merasa dihargai dan diperlukan dalam
organisasi/sekolah. Selanjutnya pada sekolah-sekolah yang besar dengan jumlah
guru yang banyak akan membuat kepuasan kerja guru menjadi kurang, ini
disebabkan semakin besar organisasi semakin banyak guru akan semakin rumit
mengelola organisasi tersebut.
Survey untuk menentukan kepuasan kerja adalah bisa melalui survey
objektif dan survey deskriptif. Survey objektif menyediakan pertanyaan dan pilihan
jawaban sedemikian rupa sehingga pegawai hanya perlu memilih dan menandai
jawaban yang paling mewakili perasaan mereka sendiri. Survey deskriptif
menyajikan pertanyaan tentang berbagai topik tetapi memberikan keleluasaan
bagi pegawai untuk menjawabnya dengan kata-kata mereka sendiri, sedang
indikator-indikator untuk survei kepuasan kerja terdiri sebagai berikut :
1. Pergantian pegawai
2. Kemangkiran dan keterlambatan
3. Catatan prestasi
4. Pemborosan dan barang sisa
5. Catatan kualitas
6. Laporan dari penyuluh
7. Laporan kecelakaan
8. Keluhan
9. Catatan pelatihan
10. Sasaran
11. Catatan perawatan
12. Wawancara keluar 9.
Sikap seseorang terhadap pekerjaanya mencerminkan pengalaman yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam pekerjaannya serta harapanharapannya
terhadap pengalaman masa depan.

Berikan Tanggapan Anda