Kepala Sekolah, Kinerja Guru dan Budaya Organisasi Sekolah

kepala sekolah sebagai manajer,kepala sekolah sebagai managerial,kepala sekolah sebagai manajer pendidikan,kepala sekolah sebagai manajer sarana dan prasarana,kepala sekolah sebagai manajer sarana prasarana,kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin,kepala sekolah sebagai manajer pdf,tugas kepala sekolah sebagai manajer,makalah kepala sekolah sebagai manajer,fungsi kepala sekolah sebagai manajerial,kepala sekolah sebagai manajer di sekolah,fungsi kepala sekolah sebagai manajer pendidikan,kepala sekolah sebagai manajer ( manager),kepala sekolah sebagai manajer adalah,artikel kepala sekolah sebagai manajer,makalah kepala sekolah sebagai manajer belajar,peran kepala sekolah sebagai manajer dalam implementasi manajemen berbasis sekolah,fungsi kepala sekolah sebagai manajer dan supervisor pendidikan,peran kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin,kepala sekolah sebagai supervisor dan manajer pendidikan,kepala sekolah sebagai supervisor dan manager pendidikan,makalah kepala sekolah sebagai supervisor dan manajer pendidikan,tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai manajer,peran dan fungsi kepala sekolah sebagai manajer,identifikasikan tugas kepala sekolah sebagai manajer,identifikasi tugas kepala sekolah sebagai manajer,fungsi dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai manajer pendidikan,tugas dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai manajer,kompetensi kepala sekolah sebagai manajer,kepemimpinan kepala sekolah sebagai manajer,kepala sekolah sebagai leader dan manajer,makalah peran kepala sekolah sebagai manajer,makalah fungsi kepala sekolah sebagai manajer,makalah kepala sekolah sebagai manajer pendidikan,peran kepala sekolah sebagai manajer,peranan kepala sekolah sebagai supervisor manager,peran kepala sekolah sebagai manager sarana prasarana,fungsi kepala sekolah sebagai manajer di sekolah,sebutkan fungsi dan tugas pokok kepala sekolah sebagai manajer di sekolah,peran dan fungsi kepala sekolah sebagai manajer tata usaha,tugas pokok kepala sekolah sebagai manajer,fungsi dan tugas pokok kepala sekolah sebagai manajer di sekolah,tugas pokok dan fungsi kepala sekolah sebagai manajer, motivasi kerja

Pemimpin akan muncul jika ada sekelompok orang bekerja yang melakukan aktivitas bersama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapai tujuan bersama (Gibson dalam Sudarmayanti, 2002: 272).

Jadi dalam memimpin pasti terlibat kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau memotivasi orang lain/bawahannya agar mereka mau melaksanakan tugasnya dengan baik. Pengertian lain bahwa kepemimpinan merupakan suatu aktivitas untuk mempengaruhi perilaku atau seni mempengaruhi manusia baik perorangan maupun kelompok (Miftah Toha, 2004: 9).

Pengertian juga mengungkapkan bahwa pemimpin ditentukan oleh bakat dan kemampuan/kepandaian. Bakat yaitu sifat yang dibawa sejak lahir sedang kemampuan atau kepandaian yaitu suatu kemampuan yang dicapai karena belajar atau berlatih secara teori maupun praktek mengenai kepemimpinan untuk bertindak sebagai pemimpin. Di dalam prakteknya akan lebih baik apabila kedua hal tersebut ada pada diri seorang pemimpin, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi dan kemampuan untuk mengelola pekerjaan atau suatu organisasi.

Kepemimpinan berkaitan dengan sebuah organisasi bahwa kepemimpinan sebagai pencerminan suatu kualitas organisasi sebagai sistem yang memiliki karakteristik. Konsep tersebut menjadi gambaran bahwa maju dan mundurnya suatu organisasi sangat tergantung dari pemimpin. Lembaga pendidikan atau sekolah sebagai organisasi formal merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen.

Dari komponen yang ada seorang pemimpin harus mengetahui dan memberdayakan bawahannya untuk mengerjakan tugas. Sehubungan dengan jabatan sebagai kepala sekolah sebenarnya terdapat tiga peran yaitu:

  1. Kepala Sekolah sebagai pemimpin sekolah,
  2. Kepala Sekolah sebagai manajer dan
  3. Kepala Sekolah sebagai administrator.

Kepala sekolah sebagai pemimpin yaitu mengarahkan, mempengaruhi, memberi pengertian atau sejenisnya kepada staf untuk bekerja mencapai tujuan. Sedang kepala sekolah sebagai manajer berkaitan dengan pengelolaan sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi dan pelaporannya.

Kepala sekolah sebagai adminsitrator berkaitan dengan jabatan dalam keorganisasian yaitu terkait dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab seperti halnya dikemukakan Wirawan (2002: 17) bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses bukan sesuatu yang terjadi seketika. Istilah proses dalam istilah kepemimpinan ini terdiri dari masukan, proses dan keluaran.

Pemimpin mempunyai peranan sebagai subyek yang aktif, kreatif dalam menggerakkan orang baik sebagai individu maupun kelompok/organisasi dalam pencapaian tujuan/visi, secara efektif. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran strategi dalam kerangka manajemen dan kepala sekolah merupakan salah satu faktor terpenting dalam menunjang keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan.

Kepala sekolah adalah pengelola satuan pendidikan yang bertugas menghimpun, memanfaatkan, mengoptimalkan seluruh potensi dan SDM, sumber daya lingkungan (sarana dan prasarana) serta sumber dana yang ada untuk membina sekolah dan masyarakat sekolah yang dikelolanya.

Baca Juga  Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah

Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami kebera¬daan sekolah sebagai organiasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.

Kualitas kepemimpinan menurut Rodger D. Callons dalam Timpe (1993: 38-40) telah diidentifikasi sejumlah ciri-ciri pemimpin yang berhasil diantaranya adalah kelancaran berbicara, kemampuan untuk memecahkan masalah, kesadaran akan kebutuhan, keluwesan, kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab, ketrampilan sosial dan kesadaran akan lingkungan.

Pemimpin sebagai suatu atribut yang terdiri dari 12 karakteristik yaitu :

  1. fitalitas dan stamina fisik,
  2. inteligensia,
  3. kemampuan menerima tanggung jawab,
  4. kompetensi penugasan,
  5. memahami kebutuhan orang lain,
  6. terampil berurusan dengan orang lain,
  7. ingin berhasil,
  8. kemauan bermotivasi,
  9. keberanian, keteguhan dan ketahanan pribadi,
  10. kemampuan menenangkan perasaan,
  11. kemampuan memanajemen, memutuskan dan menetapkan,
  12. adaptasi dan fleksibilitas (Salusu, 1996: 210).

Berdasarkan beberapa sifat pemimpin di atas maka pemimpin merupakan orang pilihan yang mempunyai sifat-sifat unggul dibanding dengan lainnya dalam satu kelompok. Di samping sifat, fungsi dan kualitas terdapat implikasi dari sifat-sifat, perilaku, pengetahuan, dan fungsi dalam pelaksanaan sehari-hari dengan cara atau gaya tersendiri agar berhasil sesuai dengan harapan.

Terdapat 2 dua gaya yang digunakan oleh pemimpin yaitu gaya yang berorientasi pada tugas dan gaya yang berorientasi pada karyawan. Gaya pemimpin yang berorientasi pada tugas yaitu mengarahkan dan mengawasi secara ketat bawahannya untuk memastikan bahwa tugas dijalankan dengan memuaskan. Gaya pemimpin yang berorientasi pada karyawan yaitu mencoba memotivasi karyawan bukan mengendalikan karyawan (Linkert dikutif oleh James AF Stoner, 1982: 120)

Terdapat 8 tipe kepemimpinan yaitu

  1. Tipe kharismatik,
  2. Tipe paternalistik dan maternalistis,
  3. Tipe meliteristis,
  4. Tipe otokratis,
  5. Tipe laissez faire,
  6. Tipe populastis,
  7. Tipe administratif atau eksekutif,
  8. Tipe demokratis.

Berdasarkan pendapat Gary Yukl, 2002: 6, dijelaskan berbagai ukuran dari keberhasilan pencapaian tujuan yang disebabkan oleh kepemimpinan dapat dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Dengan demikian kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap hasil kerja atau produktivitas secara langsung maupun tidak langsung.

Kinerja Guru

Kinerja merupakan hasil kerja seluruh aktivitas dari seluruh komponen sumber daya yang ada. Kinerja atau performance adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum sesuai dengan norma maupun etika (Suryadi Prawiro Sentono, 1999: 1).

Guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyam¬paikan ilmu pengetahuan dan sebagai orang yang banyak digugu dan ditiru. Menurut UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik (guru) merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan.

Baca Juga  Kepala Sekolah Sebagai Manajer

Guru adalah seorang tenaga profesional yang dapat menjadikan murid-muridnya mampu merencanakan, menganalisis dan menyimpulkan masalah yang dihadapi (Syafrudin Nurdin, 2005: 7). Seorang guru tidak hanya terbatas pada status sebagai pengajar saja, namun peranan guru lebih luas lagi yaitu seabgai penyelenggara pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan/mutu produktivitas.

Kinerja seseorang sangat ditentukan oleh pengalaman, latihan, pendidikan dan karakteristik mental serta fisik, di samping itu kinerja juga dipengaruhi oleh aspek bahasa, aspek hukum, kebudayaan setempat yang merupakan tambahan spesifik penting lainnya.

Untuk penilaian kinerja oleh John Suprihanto, 1996: 2 dapat ditujukan pada berbagai aspek yaitu;

  1. kemampuan kerja,
  2. kerajinan,
  3. disiplin,
  4. hubungan kerja,
  5. prakarsa dan kepemimpinan atau hal-hal khusus sesuai dengan bidang dan level pekerjaan yang dijabatnya.

Hal yang mudah mempengaruhi kinerja adalah imbalan yang diperoleh, hadiah yang diberikan baik hadiah dari luar maupun dari dalam akan dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Hadiah tersebut dapat memotivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan lebih baik.

Sesuatu yang paling berperan untuk memotivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan lebih baik adalah adanya hadiah. Disamping hal tersebut juga diperlukan kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan pemberian penghargaan. Kinerja guru sebagai tenaga kependidikan dan sebagai karyawan/ pegawai negeri sipil baik di lembaga/yayasan sekolah, berperan sebagai pengelola pendidikan.

Maka sebagai seorang guru dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah dalam rangka mencapai tujuan, terkait dengan prestasi belajar siswa. Pendidik/guru sebagai unsur yang sangat strategis dan sebagai ujung tombak dalam merealisasikan tujuan untuk mewujudkan produktivitas sekolah yang berkualitas.

Pendidikan harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi;

  1. kompetensi pedagogik,
  2. kompe¬tensi kepribadian,
  3. kompetensi profesional, dan
  4. kompetensi sosial (PP 19/2005: 23-24).

Dengan demikian kinerja guru merupakan hasil yang dicapai oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah baik sebagai pendidik dan pengajar dalam rangka mencapai tujuan yaitu mewujudkan lulusan/prestasi belajar siswa yang optimal.

Budaya Organisasi Sekolah

Budaya adalah sumber keunggulan kompetitif utama berkelanjutan yang kemungkinan timbul sebagai pemersatu dalam organisasi sistem, struktur dan karir (Subir Chowdhury, 2005: 327).

Budaya sebagai semua temu hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan, kebendaan dan kebudayaan jasmaniah dalam upaya menguasai alam sekitarnya. Rasa meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai kemasyarakatan dalam arti luas, di dalamnya meliputi ideologi, kebatinan, kesenian serta segala pengetahuan dan teknologi (Soerjono Soekanto, 1993: 166).

Baca Juga  Mutu Sekolah

Budaya organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi. Budaya selalu mengalami perubahan, hal ini sesuai dengan peranan sekolah sebagai agen perubahan yang selalu siap untuk mengikuti perubahan yang terjadi. Maka budaya organisasi sekolah diharapkan juga mampu mengikuti, menyeleksi, dan berinovasi terhadap perubahan yang terjadi.

Tilaar, 2004: 41 mengemukakan bahwa kebudayaan dan pendidikan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan karena saling mengikat. Budaya itu hidup dan berkembang karena proses pendidikan, dan pendidikan itu hanya ada dalam suatu konteks kebudayaan. Yang ada dalam arti kurikulum adalah sebagai rekayasa dari pembudayaan suatu masyarakat, sedangkan proses pendidikan itu pada hakekatnya merupakan suatu proses pembudayaan yang dinamik.

Budaya organiasi terdiri dari dua komponen yaitu:

  1. nilai (value) yakni sesuatu yang diyakini oleh warga organisasi dalam mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, dan
  2. keyakinan (belief) yakni sikap tentang cara bagaimana seharusnya bekerja dalam organisasinya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan diharapkan para pelaksana pendidikan di sekolah dapat mengubah budaya organisasinya sesuai dengan kondisi yang ada.

Terdapat beberapa kriteria kelompok dalam merespon perubahan dikemukakan oleh Handoko T. Hani, 2001: 322-323 yaitu:

  1. menyangkal perubahan yang terjadi,
  2. mengabaikan adanya perubahan,
  3. menolak perubahan,
  4. menerima perubahan dan menyesuaikan dengan perubahan, dan
  5. mengantisipasi perubahan dan merencanakannya.

Kondisi yang terjadi mengenai sikap, perilaku, pola pikir, tindakan terhadap keadaan organisasi adalah merupakan suatu budaya organisasi. Budaya organisasi dapat diciptakan dan dikondisikan oleh sesama tenaga kerja yang ada di organisasi bersangkutan. Budaya organisasi memiliki peranan yang sangat strategis untuk mendorong dan meningkatkan keefektifan kinerja organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Budaya organisasi berperan sebagai perekat sosial yang mengikat sesama anggota organiasi secara bersama-sama dalam suatu visi dan tujuan yang sama.

Ada 4 fungsi budaya organisasi yaitu;

  1. memberikan suatu identitas organisasional kepada anggota organisasi,
  2. memfasilitasi dan membuahkan komitmen kolektif,
  3. meningkatkan stabilitas sistem sosial, dan
  4. membentuk perilaku dengan membantu anggota-anggota organisasi memiliki pengertian tehadap sekitarnya.

Budaya organisasi dapat dikatakan baik jika mampu menggerakkan seluruh personal secara sadar dan mampu memberikan kontribusi terhadap keefektifan serta produktivitas kerja yang optimal. Dengan demikian budaya organisasi sekolah sebagai bagian kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formulanya untuk menciptakan norma perilaku pelaku organisasi dan menentukan arah organisasi secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan organisasi sekolah

Berikan Tanggapan Anda