Supervisi dan Motivasi Kepala Sekolah

Menciptakan produktivitas sekolah yang tinggi, diperlukan kinerja tenaga pendidik yang berkualitas dan memadai. Kinerja tenaga pendidik perlu dilakukan karena untuk memenuhi tuntutan dan perubahan-perubahan di lingkungan pendidikan serta untuk pembinaan dan pengembangan guru dalam rangka menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan dalam dunia pendidikan, dan hanya dengan pengukuran kinerja seseorang dapat diketahui bahwa telah bekerja dengan baik atau tidak.
            Asep Jihat (2008:53) mengatakan bahwa dalam melaksanakan tugas profesionalnya, seorang guru tidak terlepaskan dari kegiatan penilaian. Kedudukan penilaian sangat penting bagi penunaian tugas keberhasilan melaksanakan pembelajaran.   Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui apakah program pendidikan, pengajaran ataupun pelatihan tersebut telah dikuasai oleh pesertanya atau belum.          Selanjutnya Komariah dan Triatna (2005:30), menyatakan bahwa kinerja personal sekolah terkait dengan produktivitas sekolah, yang merupakan tujuan akhir dari administrasi atau penyelenggaraan pendidikan. Jika produktivitas sekolah diukur dari prestasi belajar siswa, maka hal tersebut sangat tergantung  pada prosesnya, yaitu kinerja mengajar gurunya.
Lebih lanjut Mahmudi dalam Martinis Yamin dan Maisah (2010:110), menegaskan:”Penilaian kinerja menjadi sarana pembelajaran bagi semua pegawai organisasi untuk: (1) merefleksi terhadap kinerja masa lalu; (2) mengevaluasi kinerja saat ini; dan (3) mengidentifikasi solusi terhadap permasalahan kinerja saat ini dan membuat keputusan-keputusan untuk perbaikan kinerja yang akan datang.
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 (Sisdiknas, Pasal 3) dikemukakan sebagai berikut:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan     membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi   peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertatakwa kepada   Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,   mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung   jawab”.
            Untuk  mewujudkan tujuan nasional tersebut, dalam tatanan mikro pendidikan harus mampu menghasilkan SDM berkualitas dan professional sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Sisdiknas Pasal 3 di atas. Dalam hal ini guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula.
Berdasarkan data yang dipaparkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sambas bahwa peserta Ujian Nasional Kabupaten Sambas tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 6.568 siswa, yang tidak lulus 1.093 siswa (17,11%) dan menempati urutan ke 13 dari 14 kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Sementara SMP di Kecamatan Galing yang dijadikan sebagai obyek penelitian memiliki gambaran yang tidak jauh berbeda dengan kecamatan lain di Kabupaten Sambas. Dari data yang didapat, hasil Ujian Nasional tahun 2010, siswa yang ikut ujian berjumlah 195 siswa, hanya meluluskan 45.93% siswa. Sedangkan dari 67 orang guru yang tersebar di 5 (lima) SMP Kecamatan Galing, yang berpendidikan S-1 ada 42 orang guru (63%), dan 6 orang guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik. Dengan demikian, ada 37% guru SMP di Kecamatan Galing belum memiliki kualifikasi S-1 dan 92% guru belum memiliki sertifikat pendidik. Dari data tersebut secara formal untuk menjadi guru profesional  yang di isyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No. 74 tentang guru belum terpenuhi.
Samiun (1995:5) dalam Abdul Hadis dan Nurhayati.B (2010:61-62), menyatakan:  dalam upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru di sekolah, banyak faktor yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah, selain faktor yang bersifat internal yang bersumber pada guru itu sendiri, juga faktor eksternal yang bersumber dari luar diri guru. Faktor internal seperti faktor potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik guru. Faktor ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru di sekolah. Faktor eksternal yang memiliki kontribusi yang signifikan terhadap profesionalisme dan kepuasan kerja guru adalah faktor layanan supervisi kepala sekolah. Signifikansi kontribusi layanan supervisi kepala sekolah, khususnya dalam mendukung kegiatan profesional guru dan profesionalisme guru, secara teoritik dikemukakan oleh Marks (1991) yang menyatakan bahwa nilai dari suatu layanan supervisi kepala sekolah terletak kepada perbaikan prosedur profesionalisme guru yang tercermin dalam prestasi siswa atau perkembangan belajar siswa.
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan profesionalisme guru, Djabar (1992) mengemukakan lima pola pendekatan, yaitu: (1) peningkatan disiplin kerja; (2) peningkatan kualitas kerja; (3) peningkatan disiplin belajar mengajar; (4) peningkatan mutu proses belajar mengajar; dan (5) peningkatan supervisi.
Sementara itu, kecenderungan melemahnya produktivitas guru berdasarkan pengamatan penulis dilapangan, terjadinya guru yang membolos mengajar, guru yang masuk ke kelas tidak tepat waktu, tidak mempunyai persiapan mengajar (Satuan Pelajaran), dan tidak punya absensi siswa. Dan pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah belum dilaksanakan dengan sebaik-baiknya kepada guru. Beberapa rekan penulis yang sama-sama menjabat kepala SMP mengaku kurang serius dalam melaksanakan fungsinya sebagai supervisor.
Efek dari hal tersebut berakibat adanya menurunnya Nilai Ujian SMP di Kecamatan Galing dan merupakan salah satu penyebabnya adalah tidak adanya ke puasan guru terhadap supervisi kepala sekolah, dan motivasi kepala sekolah. Oleh karena itu supervisi kepala sekolah berkontribusi signifikan terhadap profesionalisme dan kinerja guru, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, layanan supervisi kepala sekolah juga berpengaruh dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil belajar mengajar di kelas.
Berbagai hasil penelitian menyimpulkan bahwa supervisi pengajaran yang diberikan oleh kepala sekolah sebagai manajer organisasi sekolah dan sebagai supervisor kepada guru dapat meningkatkan motivasi kerja dan kinerja di sekolah (Wahjosumidjo,1994:12).
Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, kepala sekolah harus memerankan diri dalam tatanan perilaku yang disingkat EMASLIME, sebagai singkatan dari educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, motivator, dan entrepreneur. Dan dua diantara EMASLIME tersebut, yaitu: supervisor (supervisi) dan motivator (motivasi) yang diperankan kepala sekolah merupakan variabel yang dipilih dalam penelitian ini karena merupakan langkah strategis yang diduga dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam mengajar.
Peningkatan profesionalisme guru dalam mengajar adalah melalui supervisi akademik. Supervisi akademik yang juga disebut sebagai supervisi pengajaran “menjunjung tinggi perbaikan mutu secara berkesinambungan (continuous quality improvement)” sebagai salah satu prinsip dasar dari manajemen mutu terpadu (Satori, 2006:6).
Lebih lanjut, Glickman (1981) mendefinisikan supervisi akademik adalah: serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan, Daresh (1989), menjelaskan: supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Ditegaskan lagi oleh Dadang Suhardan (2010:13), bahwa masalah mutu pembelajaran, menyangkut masalah yang sangat esensial yaitu masalah kualitas mengajar yang dilakukan guru harus mendapat pengawasan profesional dan pembinaan terus menerus dan berkelanjutan dari supervisor untuk memperbaiki pembelajaran. Dapat dikatakan  bahwa supervisi akademik bukan untuk menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, tetapi melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga pendidik dalam melakukan tugasnya. Memberikan motivasi terhadap guru dapat terdiri atas pemberian penghargaan yang dapat menumbuhkan inisiatif, kemampuan-kemampuan kreatif, dan semangat berkompetisi yang sehat. Penghargaan ini sangat penting untuk meningkatkan mutu kinerja tenaga pendidik, dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif.
Motivasi pada dasarnya merupakan kondisi mental yang mendorong pemimpin melakukan suatu tindakan atau aktivitas dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian pemenuhan keinginan, kebutuhan, memberi kepuasan, ataupun mengurangi ketidakseimbangan. Stanley Vance, dalam Sudarman Danim (2010:117), mengatakan bahwa pada hakikatnya motivasi adalah perasaan atau keinginan pemimpin yang berada dan bekerja di kondisi tertentu untuk melaksakan tindakan-tindakan yang menguntungkan dilihat prespektif pribadi dan terutama organisasi. Selanjutnya Robert Dubin dalam Sudarman Danim (2010:117), mengartikan motivasi sebagai kekuatan kompleks yang membuat pemimpin berkeinginan memulai dan menjaga kerja dalam organisasi.
Mengingat bahwa setiap individu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, maka sangat penting bagi kepala sekolah untuk melihat kebutuhan dan harapan gurunya, bakat dan ketrampilan yang dimiliki serta bagaimana rencana para guru pada masa mendatang. Jika hal tersebut sudah diketahui, maka lebih mudah untuk mengembangkan profesionalitas guru sehingga lebih termotivasi, karena  motivasi dapat memacu guru untuk bekerja keras sehingga dapat mencapai tujuan mereka. Hal ini meningkatkan produktivitas kerja guru sehingga berpengaruh pada pencapaian tujuan.
Kegiatan Supervisi Kepala Sekolah dan motivasi kerja berpengaruh secara psikologis terhadap kepuasan kerja guru, guru yang merasa puas dengan pemberian supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja maka guru akan bekerja dengan sukarela yang akhirnya dapat membuat produktivitas kerja mereka menjadi meningkat. Tetapi jika guru kurang puas terhadap pelaksanaan supervisi dan motivasi kepala sekolah maka guru bekerja karena terpaksa dan menunjukkan sikap-sikap yang negatif karena merasa tidak puas, hal ini mengakibatkan produktivitas kerja guru menjadi turun.
            Winardi (2001:207), mengatakan bahwa: bekerja tanpa motivasi akan cepat bosan, karena tidak adanya unsur pendorong. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya gairah kerja guru, agar guru mau bekerja keras dengan menyumbangkan segenap kemampuan, pikiran, keterampilan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Guru menjadi seorang pendidik karena adanya motivasi untuk mendidik. Bila tidak punya motivasi maka tidak berhasil untuk mendidik atau jika dia mengajar karena terpaksa sebab tidak ada kemauan yang berasal dari dalam diri guru. Motivasi merupakan suatu kekuatan potensial yang ada pada diri seseorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri, atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya sekitar imbalan moneter, dan imbalan non moneter, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau negatif, tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan.
            Ditegaskan lagi oleh Hasibuan (2000:163), bahwa: Para guru mempunyai cadangan energi potensial, bagaimana energi tersebut dilepaskan atau digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia. Menurut McClelland energi yang dilepaskan karena didorong oleh: 1) kekuatan motif dan kebutuhan dasar yang terlibat, 2) harapan keberhasilannya, dan 3) nilai insentif yang terlekat pada tujuan.

Dengan demikian bagi kepala sekolah dalam memotivasi guru hendaknya menyediakan peralatan, membuat suasana kerja yang menyenangkan, dan memberikan kesempatan promosi/kenaikan pangkat, memberi imbalan yang layak baik dari segi moneter maupun non moneter. Disamping guru sendiri harus mempunyai daya dorong yang berasal dari dalam dirinya untuk berprestasi dalam karirnya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih agar tujuan sekolah (tujuan pendidikan) dapat tercapai.

Baca Juga  Konsep Efektivitas Organisasi

Berikan Tanggapan Anda