KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN TRANSFORMASIONAL

Persaingan dan perubahan yang terjadi dalam konteks dunia pendidikan  mensyaratkan kemampuan seorang kepala sekolah yang handal untuk melakukan beraneka ragam pekerjaan. Pengetahuan,keterampilan dan sikap yang diperoleh dan dikembangkan dari lembaga pendidikan dan latihan sebelumnya seringkali dianggap kurang sesuai dengan tuntutan persyaratan kerja kepala sekolah yang bereskalasi tinggi, sehingga pertumbuhan profesionalismenya harus terus-menerus juga dirangsang.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah  menegaskan bahwa seorang kepala sekolah   harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.  Kewirausahaan di sini dalam makna untuk kepentingan pendidikan yang bersifat sosial bukan untuk kepentingan komersial. Kewirausahaan dalam bidang pendidikan yang diambil adalah karakteristiknya (sifatnya) seperti inovatif, bekerja keras, motivasi yang kuat, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik, dan memiliki naluri kewirausahaan; bukan mengkomersilkan sekolah.
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mampu mengubah sesuatu yang bentuk lain berbeda  dan merupakan agen perubahan. Fungsi utamanya berperan sebagai katalitas perubahan, bukannya sebagai pengontrol perubahan (Donni Juni  P, ddk 2014:231). Kalaulah demikian pempimpin tranformasional adalah kepemimpinn yang membutuhkan tindakan memotivasi para guru, pegawai staf TU dan stake holder lainnya disekolah agar bersedia bekerja demi sasaran yang dianggap melampaui kepentingan pribadinya. Seorang pemimpin tranformasional akan memilki visi, keahlian dalam berretorika serta  memiliki pengelolaan kesan yang baik dan menggunakannya untuk mengembangkan sebuah komitmen secara emosional yang kuat dengan pengikutnya.
Tercapainya tujuan pendidikan di sekolah, tidak terlepas dari dua unsur penting yaitu peranan dari kepala sekolah dan guru. Agar tujuan pendidikan  dapat dicapai dengan baik, maka kepala sekolah melaksanakan kepemimpinan yang baik dan seorang guru harus mampu  melaksanakan pembelajaran secara efektif. Kepala Sekolah sebaiknya meningkatkan pelaksanaan supervisi akademik dan menerapkan kepemimpinan transformasional secara optimal, dalam rangka menciptakan pembelajaran yang bermutu yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan. Kepada para guru diharapkan dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif untuk lebih meningkatkan profesionalisme, sehingga dapat terlaksananya pembelajaran yang bermutu dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan. Selain itu, guru harus mendukung dan bekerjasama yang baik dengan kepala sekolah, sehingga dapat terciptanya kondisi yang kondusif di lingkungan sekolah.
Guru merupakan komponen sekolah yang sangat penting, memiliki peran utama dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh karena itu guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara matang dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya. Hal ini menuntut guru agar melakukan perubahan–perubahan kearah yang lebih maju dalam pengorganisasian kelas, penggunaan  metode mengajar, pendekatan, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif. Jika guru mengajar sudah efektif, maka akan berpengaruh pada peningkatan kualitas keluaran atau outputnya.
Ketaatan dan kedisiplinan guru dalam bekerja sangat bervariasi seperti ada beberapa guru tidak hadir kesekolah tanpa keterangan sedangkan jam mengajarnya ada, hal tersebut dapat diketahui dari daftar hadir guru. Begitu juga dengan kemampuan mengajar guru yang berlangsung di kelas, sebagian guru mengaku dapat berlangsung dengan tertib dalam suasana kondusif dan sebagian yang lain menyatakan sebaliknya. Disisi lain pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah belum maksimal. Ditunjang lagi dengan penampilan  kepemimpinan kepala sekolah yang belum mampu mendukung terlaksananya proses pembelajaran yang efektif, sehingga hal ini berakibat pada tingkat kelulusan peserta didik belum memuaskan.
Dengan dilaksanakannya supervisi akademik oleh kepala sekolah, maka guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran merasa terbantu karena dapat menemukan, kelemahan atau kekurangan yang dimilikinya. Berawal dari kelemahan yang dimiliki oleh guru, kepala sekolah dapat memberikan masukan bagaimana melakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan kaidah pembelajaran aktif, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.
Kepala sekolah harus mempunyai komitmen yang tingggi terhadap pelaksanaan supervisi akademik di sekolah dalam rangka membantu guru meningkatkan profesionalismenya. Kunjungan kelas harus dilakukan secara bekesinambungan sehingga dapat mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki guru dalam melaksanakan tugas mengajar di kelas. Atas dasar itu kepala sekolah dapat memberikan bantuan, bimbingan dan pengarahan kepada guru sesuai dengan temuannya dalam supervisi kelas tersebut. Diharapkan proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan mutu pendidikan di Indonesia pada umumnya.  
Kepala sekolah sebagai pemimpin diharapkan mampu mempengaruhi  dan memotivasi guru agar dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya secara efektif. Untuk itu kepala sekolah dapat menerapkan  kepemimpinan transformasional. Kepala sekolah harus mampu melakukan transformasi di lingkungan sekolah agar dapat mengubah potensi yang ada menjadi sebuah energi untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan hasil belajar siswa.
Kepemimpinan kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru  dan motivasi belajar siswa bahkan sangat berkaitan dengan mutu lulusan. Dapat dikatakan bahwa kualitas mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah.  “Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelengaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana” Mulyasa (2009:25). Mengingat sedemikian kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, menghendaki adanya dukungan dari guru dalam rangka mewujudkan visi dan misi yang telah ditentukan oleh sekolah, untuk itu diperlukan kepemimpinan transformasional kepala sekolah, hal ini sejalan dengan pendapat Danim dan Suparno (2009:51) menyatakan “Kepemimpinan transformasional diyakini akan mampu menjawab restrukturisasi sekolah secara kekinian”.
Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan rutin yang bersifat administratif, pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga bidang akademisnya kurang mendapat perhatian.  Setiap guru pada prinsipnya memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi meningkatkan kemampuan mengajarnya. Namun potensi itu tidak selalu berkembang secara wajar disebabkan adanya pengaruh dari berbagai faktor baik yang muncul dalam pribadi guru itu sendiri (intern) maupun faktor dari luar (ekstern) seperti supervisi akademik dan kepemimpinan transformasional sebagai mana diuraikan di atas. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi di lapangan mencerminkan keadaan guru yang tidak sesuai dengan harapan.
Kepala sekolah sebagai pemimpin adalah sebagai subjek yang harus melakukan transformasi kepemimpinan di sekolah, melalui pemberian bimbingan, tuntunan atau anjuran kepada seluruh komponen yang ada di sekolah agar tujuan sekolah dapat tercapai. Kepemimpinan transformasional yang diterapkan oleh kepala sekolah merupakan gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan dan memotivasi semua unsur yang ada di sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang ada di sekolah (guru, siswa, staf TU, komite sekolah orang tua siswa, masyarakat ) bersedia, tanpa paksaan, berpartisipasi secara optimal, dan berbuat lebih dari apa yang sesungguhnya diharapkan dalam rangka mencapai tujuan sekolah.
Dengan demikian sebagai kepala sekolah sebagai pemimpin transformasional harus mampu memotivasi sumberdaya manusia yang ada disekolah agar bersedia bekerja demi sasaran tingkat tinggi yang dianggap melampaui kepentingan sekolah dan dimana segala hal yang diberikan dalam pekerjaan untuk kemajuan sekolah juga. Mereka memiliki teamwoek yang solid dengan warga sekolah yang ditandai dengan mau bertanggung jawab atas kebijaknnya, selalu mau belajar dari pengalaman, berusaha memcahkan masalah secara kreatif, bekerja keras dan disiplin, tidak mudah puas, tahan kritik  dan mampu mengelola pembaruan pada segala aspek kegiatan disekolah.

(Uray Iskandar, S.Pd,M.Pd Dinas Pendidikan Kabupaten Sambas )
Baca Juga  RKAS

Berikan Tanggapan Anda